Tampilkan postingan dengan label Minat Khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minat Khusus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2017

Kisah Ki Tunggul Wulung Dan Gunung Limo

Kisah Ki Tunggul Wulung Dan Gunung Limo

Kisah Ki Tunggul Wulung Dan Gunung Limo

Cerita dimulai dimana saat kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan yang menjadi Raja Majapahit adalah Brawijaya V, dimana Putra Brawijaya V menikah dengan seorang putri Cina dan menurut kepercayaan masyarakat Jawa, bila orang Jawa menikah dengan orang Cina maka orang Jawa tersebut akan kalah dalam segala hal. Brawijaya V menyadari hal tersebut, beliau kemudian menyiapkan seseorang untuk berjaga-jaga bila hal tersebut atau huru-hara tersebut benar-benar terjadi. Seseorang yang dipersiapkan tersebut ialah Ki Tunggul Wulung. Brawijaya V menyuruh Ki Tunggul Wulung untuk bersemedi di Gunung Lawu. Ki Tunggul Wulung berangkat ke Gunung Lawu setelah menerima arahan Brawijaya V, sesampainya di Gunung Lawu, Ki Tunggul Wulung bertemu dengan Pandito atau seseorang yang sakti.
Di saat itulah Agama Islam masuk ke tanah Jawa lewat daerah pesisir utara Pulau Jawa, karena tidak ingin masuk Islam ketiga saudara Ki Tunggul Wulung yaitu Ki Brayut, Ki Buwono Keling, Ki Tiyoso. Namun, mereka berempat bukan Saudara Kandung melainkan Saudara satu perguruan. Ki Brayut, Ki Buwono Keling dan Ki Tiyoso melarikan diri ke daerah selatan sesuai dengan petunjuk gurunya, “Berjalanlah selama 40 hari dan setelah mencapai tempat yang tinggi lihatlah kearah bawah bila kalian melihat tempat yang datar, tempat itulah yang dinamakan “Alas Wengker Kidul”. Seampainya di Wengker Kidul perjalanan mereka dibagi menjadi tiga yaitu, Ki Buwono Keling lewat sebelah utara, Ki Tiyoso lewat pesisir selatan dan Ki Brayut lewat tengah hutan.
Singkat cerita Majapahit mengalami huru-hara besar dan Ki Tunggul Wulung turun gunung, namun beliau tidak bisa memadamkan huru-hara tersebut kemudian Ki tunggul Wulung memutuskan untuk mencari ketiga Saudaranya dengan meminta petunjuk dari Sang Guru namun Sang Guru dalam keadaan kritis dan dalam hembusan nafas terakhirnya ia berpesan untuk menggali makam dengan tongkatnya.
Setelah peristiwa tersebut Ki Tunggul Wulung mencari ketiga saudaranya dan sampailah di tempat yang dinamakan Astono Genthong, dari situ ia melihat gunung yang berjajar empat ( tidak lima bila dilihat dari Astono Genthong ). Kemudian ia mempunyai firasat bila saudaranya berada di gugusan gunung tersebut, namun sesampainya di gunung tersebut ia tidak bertemu saudaranya.
Dari gugusan gunung yang berjumlah lima salah satunya adalah tempat untuk bertapa atau bersemedi atau juga teteki. Dikisahkan pula Kyai Tunggul Wulung adalah orang pertama yang membuka lahan atau babad alas disekitar lereng gunung Limo untuk mencapai lokasi pertapaan harus melewati banyak rintangan seperti tangga (ondo rante) selain itu kita harus menembus hutan lebat, tebing yang terjal serta Selo Matangkep.
Selo Matangkep adalah sebuah celah sempit diantara batu besar yang hanya cukup dilewati sebadan orang saja, dipintu masuk Selo Matangkep tersebut dipercaya apabila ada pengunjung yang berniat jahat maka ia tidak akan bisa melewatinya, sementara itu bagi yang berniat baik untuk berkunjung ke pertapaan kendati mustahil ia berbadan besar maupun kecil bisa melewatinya. Selain itu masih banyak sejuta aura mistik lainnya sebagai cermin keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
UPACARA TETAKEN…
Kali ini budaya khas masyarakat Pacitan itu berasal dari lereng gunung limo di Kecamatan Kebonagung. Keyakinan masyarakat sekitar Gunung Limo yang masih menganggap memiliki nilai magis diwujudkan dengan bentuk upacara atau ritual di daerah tersebut. Namanya adalah upacara Tetaken. Upacara ini dilaksaakan masyarakat Gunung Limo setiap tanggal 15 Muharram/Suro.
 
Upacara berbentuk ritual ini sudah turun temurun dilaksanakan masyarakat di lereng Gunung Limo, tepatnya berada di Desa Mantren Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Ritual upacara Tetaken ini merupakan upacara bersih desa atau sedekah bumi. Model dari ritual ini adalah ketika sang juru kunci Gunung Lima, Somo Sogimun, turun gunung. Bersama 16 anak buahnya, yang sekaligus murid-muridnya. Mereka baru selesai menjalani tapa di puncak gunung dan akan kembali ke tengah masyarakat. Tetaken adalah tradisi khas masyarakat kaki Gunung Lima yang masih dipelihara dengan baik sampai saat ini. Bagi masyarakat Pacitan, Gunung Limo adalah simbol kekuatan dan nilai spiritual, sehingga ritual tetaken menjadi budaya yang unik bernuansa spiritual juga.
Tetaken berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti teteki atau maknanya adalah pertaapaan. Tak heran, dalam pelaksanaan ritual ini, suasana religius yang kental namun sederhana menandai ritual ini. Sejarah Upacara ritual tetaken ini bermula dengan kisah, ketika Tunggul Wulung bersama Mbah Brayat mengembara. Tujuan, melakukan pengabdian dan menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa setelah bertapa di Gunung Lawu. Namun, dalam perjalanan, dua orang ini berpisah. Mbah Brayat memilih tinggal di Sidomulyo, sementara Kiai Tunggul Wulung memilih lokasi yang sepi di puncak Gunung Lima Kebonagung. Diceritakan juga bahwa Kyai Tunggul Wulung adalah orang pertama yang melakukan babat alas di kawasan Gunung Lima yang kelak kemudian disebut Mantren.
Dalam pelaksanaannya, tetaken adalah acara pembuka rangkaian acara berikutnya, tak lama setelah rombongan turun, iring-iringan besar warga muncul, memasuki areal upacara. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan paling depan adalah pembawa panji dan pusaka Tunggul Wulung dengan dua keris, satu tombak, dan Kotang Ontokusumo. Selain membawa berbagai hasil bumi dan keperluan ritual (tumpeng dan ingkung, misalnya), di baris terakhir beberapa orang tampak membawa bumbung (wadah air dari bambu) berisi legen atau nira (air yang diperolah dari pohon aren). Saat berada di tempat acara, secara bergilir para pembawa legen menuangkan isi bumbungnya ke dalam sebuah gentong yang diyakini bermanfaat untuk kesehatan. Kemudian setelah semua penunjang ritual berada ditempat acara, acara inti pun segera dimulai. Sebagai tanda kelulusan, ikat kepala para murid itu dilepas. Murid-murid itu satu persatu diberi minum air dari sari aren tersebut.
Selanjutnya, secara bergilir, para murid tersebut menghadapi tes mental dengan penguasaan ilmu bela diri, serta kadang – kadang mendapatkan cambukan. Prosesi tersebut bermakna bahwa tantangan bagi pembawa ajaran kebaikan tidaklah ringan, harus menghadapi ujian dan rintangan yang berat. Namun semua akhirnya dapat diatasi, dan pada akhirnya kebaikan mampu mengalahkan kejahatan.
Pada akhir acara, semua warga melakukan tarian bersama Langen Bekso dengan cara berpasangan. Tua muda. Laki-laki dan perempuan larut dalam kegembiraan. Gending-gending Jawa mengiringi setiap gerak langkah mereka. Kegembiraan masyarakat bertambah karena hasil panen di bumi Desa Mantren yang melimpah untuk kesejahteraan masyarakatnya.
Itulah sedikit cerita tentang Upacara ritual tetaken yang dilakukan warga di Gunung Limo yang mempunyai nilai kesakralan tersendiri dan menambah kekayaan budaya Pacitan. Jika anda tertarik melihat langsung upacara ritual tetaken ini, datang saja ke Mantren Kebonagung setiap tanggal 15 Muharram.

 

Rabu, 23 Maret 2016

Gunung Limo, Rimba Tropis Di Bumi Pacitan

Gunung Limo, Rimba Tropis Di Bumi Pacitan

Pacitan memang bukanlah target pendakian gunung nasional karena memang tidak ada gunung yang berketinggian di atas 2000 meter dari permukaan laut yang biasa menjadi target bagi pendaki gunung. Tetapi ada beberapa gunung yang layak dijadikan alternatif berwisata di Pacitan diantaranya adalah Gunung Lanang, Gunung Sepang dan tentunya gunung yang menjadi salah satu legenda Pacitan yaitu Gunung Limo.

Gunung Limo (paling kanan) dilihat dari kejauhan
Mendaki Gunung Limo yang berketinggian sekitar 750 m.dpl ini serasa berada di hutan rimba belantara yang terpisah dari peradaban. Sebenarnya lokasi Gunung Limo tidaklah jauh dari peradaban karena dikelilingi perkampungan penduduk di sekitarnya. Tetapi begitu mendaki dan masuk hutannya, serasa benar-benar menembus hutan rimba di pedalaman.

Hutan kawasan Gunung Limo mirip rimba belantara
Kondisi hutannya yang masih lebat terjaga, membuat suasana di dalam hutan terasa lembab bahkan di musim kemarau sekalipun. Cahaya matahari yang masuk terhalang kanopi hutan sehingga cahaya di dalam hutan remang-remang, apalagi Gunung Limo sering tertutup kabut sehingga siang haripun kadang terasa gelap. 

Pendakian Gunung Limo paling sering dilakukan dari sisi selatan dari Desa Mantren. Aksesnya dari Kota Pacitan ke arah Lorok melalui JLS. Tepat sebelum flyover Gayam ada pertigaan, ambil jalan kiri yang menanjak menuju Pasar Gayam, kemudian belok kiri menuju Desa Mantren. Setelah melewati Balai Desa Mantren ada pertigaan, ambil jalan yang kiri. Dari pertigaan ini jalan menanjak sampai bertemu pertigaan lagi. Kali ini ambil kanan, jalan yang menanjak. Ikuti terus jalan aspal yang mulai rusak akan sampai di pelataran Gunung Limo. Kendaraan hanya bisa sampai area ini, ada area parkir yang lumayan luas.

Area Pelataran Gunung Limo
Dari pelataran ini pendakian diawali melewati jalan tangga, kemudian masuk ke jalan setapak melintas perkebunan warga. Hanya naik sedikit dari perkebunan ini pendakian selanjutnya masuk hutan Gunung Limo. Banyak terdapat tanaman sulur yang terkadang melintang di jalur pendakiaan. Walau terkadang mengganggu tananaman sulur ini lebih banyak membantu karena bisa digunakan sebagai pegangan saat menapaki jalur menanjak yang kadang licin.

Tanaman sulur yang kadang merintangi jalan.
Dari awal mendaki, trek Gunung Limo menanjak terus dan minim bonus jalan yang datar. Beruntungnya jalur pendakian Gunung Limo sudah dipasangi tali-tali pengaman sehingga sangat membantu sekali. Kira-Kira pertengahan perjalanan, kita akan dihadapkan pada tebing terjal. Tetapi sekali lagi jalur Gunung Limo seakan sudah diseting untuk memudahkan pendaki, karena untuk melewati tebing ini sudah dipasang tangga yang terbuat dari besi.

Tangga besi, salah satu akses menuju puncak Gunung limo
Di puncak tangga, kita dihadapkan pada dua pilihan jalur. Yang pertama tetap lurus, tetapi jalurnya sangat terjal. Jalur yang kedua belok kiri melewati gerbang yang disebut "Sela Matangkep". Gerbang Sela Matangkep merupakan batu yang pecah sehingga membuat celah sempit sepanjang sekitar 10 meter. Awal masuk ke celah ini terlihat sangat sempit sehingga hanya muat untuk satu tubuh orang saja, itupun masuk dengan posisi miring. Konon menurut kepercayaan setempat, untuk bisa masuk ke gerbang Sela Matangkep ini harus punya keyakinan yang kuat untuk memasukinya. Kalau punya keyakinan yang kuat dan niat yang bersih, kita bisa memasukinya walaupun tubuh kita gemuk sekalipun. Tetapi jika tidak punya keyakinan atau punya pikiran kotor, walaupun tubuh kita kecil tetap tidak bisa masuk. Tapi itu adalah kepercayaan masyarakat setempat, kita kembalikan kepada keyakinan kita masing-masing saja. 

Secara teori, asal masuknya miring dan sedikit berusaha menggesekkan badan ke dinding batu kemungkinan tetap bisa masuk, asal tubuhnya tidak jumbo-jumbo amat. Apalagi zona sempitnya hanya di pintu masuknya saja, begitu masuk lorongnya melebar sehingga bisa dilalui dengan mudah tanpa harus miring lagi.

Gerbang Sela Matangkep. Untuk masuk harus miring dan sedikit memaksakan tubuh melewati celah batu.
Setelah keluar dari gerbang Sela Matangkep, jalan kembali menanjak sampai di atas punggungan batu. Dari sini jika kita ke kiri menyisir jalur di punggungan batu maka akan menuju ke "Watu Ungak" yang berupa batu di atas tebing setinggi 150 an meter. Dinamakan Watu Ungak (ungak = melihat/memantau), karena dari atas batu ini kita bisa melihat/memantau pemandangan mulai dari Pantai Dangkat sampai kawasan Kota Pacitan. Hanya saja butuh nyali berlebih untuk berada di batu diatas tebing setingi ini. Disarankan menggunakan tali pengaman jika ke lokasi ini.

Watu Ungak, berupa batu di atas tebing berketinggian lebih dari 150 meter.
Dari atas punggungan batu setelah gerbang Sela Matangkep tadi jika naik sedikit ada pertigaan jalur. Yang mendatar lurus menuju area "Pertapan" yaitu semacam ceruk batu yang dulunya konon digunakan bertapa. Sekarang pertapan Gunung Limo pun masih digunakan untuk kegiatan-kegiatan ritual kepercayaan, terbukti masih ada bekas-bekas dupa yang dibakar. Di pertapan ini kita bisa terlindung dari panas dan hujan karena ceruk baru yang menaunginya lumayan lebar. Bagi pendaki yang bermalam di Gunung Limo sering menggunakan pertapan ini untuk bermalam karena disini juga sudah ada tikarnya. 

Pertapaan Gunung Limo
Untuk menuju ke puncak Gunung Limo, dari pertigaan jalur tadi kita harus ambil yang kanan. jalur menanjak terus dan sekitar 10 menit pendakiaan kita bisa sampai di puncak tertinggi Gunung Limo. Puncak Gunung Limo hanya berupa dataran sempit yang dikelilingi semak-semak. View terbaik di ujung utara laut di dekat tebing batu. Dari sini jika cuaca cerah kita bisa melihat view kawasan timur seperti Pantai Dangkal dan sekitarnya.

Puncak tertinggi Gunung Limo
Mendaki Gunung Limo merupakan pendakian singkat tetapi menantang. Dari pelataran sampai puncak rata-rata bisa ditempuh hanya dalam waktu sekitar setengah jam. Tetapi medannya yang mirip hutan rimba menyajikan tantangan yang mengasyikkan untuk dilalui. Jika ingin merasakan sensasi mendaki gunung tetapi dengan waktu yang tidak begitu lama, Gunung Limo bisa dijadikan salah satu alternatifnya.

Video pendakian ke Gunung Limo bisa dilihat di youtube
https://www.youtube.com/watch?v=CFNRp36EFsg

Ayo Piknik Di Pacitan Saja
Jangan lupa bawa kembali sampah anda.
(@rif)


Selasa, 04 Agustus 2015

Pantai Pangasan, Keindahan Tersembunyi Pantai Pacitan

Pantai Pangasan, Keindahan Tersembunyi Pantai Pacitan

Pacitan seolah tiada henti-hentinya memunculkan keindahan alamnya. Destinasi baru yang mulai terekspos dan menjadi perbincangan yang ngetrend di media sosial adalah Pantai Pangasan. Salah satu daya tarik Pantai Pangasan adalah adanya batu yang menjulang di sisi barat pantainya. Batu inilah yang menjadi landmark khas Pantai Pangasan.

Landmark khas Pantai Pangasan.
Terletak di Desa Kalipelus Kecamatan Kebonagung, Pantai Pangasan terhitung tidak begitu jauh dari pusat Kota Pacitan. Untuk ke Desa Kalipelus hanyalah butuh waktu sekitar setengah jam saja. Cuma untuk menuju pantainyalah yang lebih membutuhkan perjuangan.

Dari arah Kota Pacitan jika mau menuju Pantai Pangasan bisa diakses melalui JLS (Jalan Lintas Selatan). Sebenarnya ada jalan terdekat yaitu setelah melewati Jembatan Jelok Kayen belok kanan. Tetapi karena jalan ini kondisinya kurang begitu baik, maka disarankan untuk lewat fly over gayam saja. Tepat sebelum fly over Gayam jika dari arah Pacitan belok kiri masuk pertigaan yang menanjak, kemudian menikung tajam ke kanan sampai di Pasar Gayam.

Fly Over Gayam (google earth)
Dari Pasar Gayam lurus melewati fly over, dan ikuti terus jalan utama. Jalan menanjak dan setelah bertemu gapura masuk Desa Klesem ada pertigaan ambil jalan yang lurus (jika belok kiri arah menuju Pantai Kaliuluh). Ikuti terus jalan utama yang beraspal hotmix, sampai bertemu pertigaan arah ke Balai Desa Kalipelus (ada tugu di tengah pertigaan). Pertigaan ini belok kiri dan tak lama kemudian bertemu pertigaan lagi ambil yang kiri (kalau yang kanan menurun arah menuju pantai Srengit).

Pertigaan Kalipelus (Google earth)
Selanjutnya akan melewati SD di kanan jalan, kemudian Balai Desa Kalipelus, setelah itu jalan mulai menurun. Ambil terus jalan rabat yang utama, nanti akan ketemu pertigaan lagi, ambil kiri.

Pertigaan setelah Balai Desa Kalipelus ambil kiri (Google earth)
Jalan masih tetap jalan rabat 2 jalur. Selanjutnya akan bertemu pertigaan lagi, kali ini ambil kanan saja. Sebenarnya ambil kiri juga bisa karena nanti tembusnya sama, tetapi kondisi jalannya lebih enak jalur yang kanan.

Pertigaan selanjutnya ambil jalur yang kanan, jalannya lebih enak.
Selanjutnya jika bertemu pertigaan ambil jalan yang kiri. Jalan kemudian masuk jalan tanah menyusuri punggungan bukit.

Jika ada pertigaan ambil kiri menyusuri punggungan bukit. (Google earth)
 Setelah menyusuri jalan tanah di punggungan bukit, akan ada perempatan jalan setapak. Yang lurus naik, yang kanan menurun, yang kiri juga menurun. Ambil yang jalur kiri dan ikuti terus jalan setapak tersebut sampai jalan habis. Ada baiknya parkir di area perkebunan warga karena jalan kebawah lebih sulit dan licin.

Dari punggungan bukit masuk jalan setapak sampai area pantai (Google earth)
Dari area parkir motor, perjalanan selanjutnya ditembuh dengan jalan kaki. Menyusuri area pesawahan kemudian masuk hutan tropis. Jalanan menurun terus sampai berakhir di area Pantai Pangasan.

Area persawahan di jalur menuju Pantai Pangasan.
Sesampai di area pantai, jika kita menyusur jalan setapak ke arah barat maka kita akan menuju ke Gunung Lanang yang merupakan landmark khas Pantai Pangasan. Gunung lanang merupakan sebuah tanjung kecil yang seakan terpisah dari daratan utama. Jika dilihat dari arah timur Gunung Lanang terlihat seperti batu yang menjulang tinggi.

Gunung Lanang dilihat dari sisi timur.
Kawasan barat pantai oleh warga setempat biasa disebut Pantai Pangasan, dengan kharakteristik pantai berupa batu-batu karang. Di tepi pantai merupakan area pesawahan warga setempat yang masih masuk administrasi Desa Kalipelus. Sedangkan kawasan timur terdapat sungai yang membatasi kawasan barat yang didominasi batu karang dengan kawasan timur yang berpasir. Sisi timur sungai ini oleh warga setempat dinamakan Pantai Sangklehan dan sudah masuk kawasan Desa Katipugal Kecamatan Kebonagung.

Sungai sebagai batas wilayah Desa Kalipelus dengan Desa Katipugal.
Pantai sangklehan di sisi timur sungai merupakan pantai dengan pasir hitam dengan batu-batu karang. Airnya sangat jernih. Dari sini Gunung Lanang juga masih bisa dilihat dengan jelas.

Gunung Lanang dilihat dari Pantai Sangklehan.

Sisi timur Pantai Sangklehan dibatasi dengan tebing batu tinggi yang dinamakan Gunung Ganjuran. Konon menurut cerita warga setempat, Gunung Ganjuran merupakan gunung yang sangat kental aroma mistisnya dan sering dikunjungi orang untuk tujuan-tujuan mistis.

Sisi timur dibatasi Gunung Ganjuran
Di tebing sisi timur pun ada gua kecil yang tidak begitu luas. Di dalam gua tersebut banyak terdapat batu-batu bulat-bulat dan juga merupakan habitat dari kelelawar. Untuk masuk ke dalam gua harus menunggu ombak surut, karena pintu masuknya tepat berada di zona ombak pantai.

Gunung Lanang dilihat dari dalam gua di sisi timur pantai.
Saat ombak laut sedang surut, kita bisa bermain air laut ataupun mencari kerang. Banyak terdapat kolam-kolam kecil yang berair jernih dengan ikan-ikan hias di dalamnya, sangat cocok buat berenang ataupun snorkeling.

Saat surut bisa digunakan untuk berenang di kolam-kolam kecil di pinggiran pantai.
Pantai Pangasan dan Pantai Sangklehan merupakan satu kawasan pantai yang masih sangat alami, dengan daya tarik utama landmark Gunung Lanang dan Gunung Ganjuran. Jika ke kawasan pantai ini agar selalu dijaga adab, sopan-santun, serta jangan lupa semua sampah dibawa kembali pulang. 

Kawasan pantai yang masih sangat alami dengan daya tarik landmark Gunung Lanang
Jangan ambil sesuatu kecuali foto
Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki.
Ayo berwisata di pacitan saja. 
(@rif).







Rabu, 24 Juni 2015

5 Amazing of Pacitan

5 Amazing of Pacitan

Pacitan adalah Kabupaten kecil di ujung barat-selatan Provinsi Jawa Timur. Tetapi walaupun Pacitan hanya kabupaten kecil yang dulunya juga terpencil, tempat kelahiran Presiden RI ke-6 ini ternyata banyak terdapat destinasi wisata alam yang sangat menakjubkan. Dan destinasi wisata alam yang menakjubkan itu ternyata mempunyai kontribusi yang besar  dalam mengubah Pacitan dari daerah yang dulunya terpencil, menjadi salah satu tujuan wisata unggulan Jawa Timur bahkan Indonesia.

Nah, berikut ini adalah 5 destinasi wisata alam yang menakjubkan di Pacitan yang dirangkum dalam 5 Amazing of Pacitan. Destinasi wisata alam ini dipilih berdasarkan keindahan, keunikan, maupun dimensinya yang mengagumkan baik lingkup Pulau Jawa, lingkup Indonesia bahkan dunia.

1.  Gua Gong

Gua Gong terletak di Desa Bomo Kecamatan Punung. Gua Gong dimasukkan ke jajaran 5 Amazing of Pacitan karena merupakan gua terindah se-Asia Tenggara. Keindahan Gua Gong terletak pada bentuk stalagtit dan stalagmitnya serta ornamen gua lainnya yang bagaikan membentuk istana di dalam bumi. Apalagi stalagtit dan stalagmit gua gong merupakan stalagtit dan stalagmit hidup yang masih terus tumbuh. Selain ornamen guanya yang indah, gua gong yang berkedalaman sekitar 250 meter ini juga terdapat beberapa sendang (danau kecil) yang berair sangat jernih dan menyegarkan.

Gua Gong, gua terindah se-Asia Tenggara
Saat ini gua gong sudah diberi lampu lighting berwarna-warni untuk memberi penerangan bagi pengunjung yang masuk . Kawasan wisata Gua Gong pun sudah dibangun area khusus buat pedagang makanan-minuman maupun souvenir, toilet, dan parkir.  Untuk gua dengan keindahan kelas dunia, tarif masuk Gua Gong terhitung masih sangat murah.

Baca juga : Tarif Baru Obyek Wisata Pacitan,Berlaku Mulai 1 Juni 2015

Akses menuju Gua Gong terhitung sangat mudah dengan jalan yang lebar dan beraspal mulus. Dari jalur bus Pacitan-Solo cari pertigaan barat Masjid Besar Punung. Dari situ sudah ada petunjuk arah menuju Gua Gong yang berjarak sekitar 8 Km dari pertigaan tersebut.

Ulasan tentang Gua Gong, baca: Gua Gong Pacitan, Gaungnya Semakin Mendunia

2. Gua Luweng Jaran

Gua Luweng Jaran masuk ke jajaran 5 Amazing of Pacitan karena merupakan gua terpanjang se-Indonesia. Gua yang terletak di Desa Jlubang Kecamatan Pringkuku ini juga terdaftar dalam jajaran gua-gua terpanjang se-Dunia dengan panjang sekitar 25 Km.

Gua Luweng Jaran, gua terpanjang se-Indonesia
Pintu masuk Gua Luweng Jaran berupa celah sempit di aliran sungai sehingga berbahaya jika dimasuki pada saat musim penghujan. Pintu masuknya vertikal berupa luweng (sumuran) setinggi 12 meter. Masuk lorong datar sedikit kemudian turun lagi sedalam 30 meteran baru horizontal. Dibutuhkan teknik dan peralatan khusus untuk masuk goa ini sehingga goa ini tidak dibuka untuk umum.

Gua Luweng Jaran terletaak di Desa Jlubang Kecamata Pringkuku. Akses menuju Gua Luweng Jaran melewati jalan-jalan perkampungan sehingga bagi yang belum pernah kesana harus lebih banyak bertanya pada warga setempat. Panduannya jika dari jalur bus Pacitan-Solo sampai pertigaan Pringkuku atau bisa juga dari pertigaan barat pasar Ngadirejan, masuk jalan jurusan Jlubang. Ikuti jalan utama sampai bertemu pertigaan yang ada patung kuda. Ikuti jalan yang ada patung kudanya, nah mulai dari sini sering-seringlah bertanya pada penduduk lokal.

Ulasan tentang Luweng Jaran, baca: Luweng Jaran, GuaDi Pacitan Ini Terpanjang Se-Indonesia

3. Pantai Klayar

Pantai Klayar masuk jajaran 5 amazing of Pacitankarena keindahannya yang sudah terkenal baik Nasional maupun Internasional. Bahkan situs traveling tripadvisor memasukkan Pantai Klayar dalam 10 Pantai Indonesia pilihan traveler.( http://www.tripadvisor.com/TravelersChoice-Beaches-cTop-g294225).

Pantai Klayar, masuk jajaran 10 pantai terindah se-Indonesia
Daya tarik utama Pantai Klayar adalah pantainya yang berpasir putih dengan batu-batuan karang yang berpadu dengan batuan karts. Selain itu di Pantai Klayar juga terdapat Seruling Samudera (ocean flute) yang membuat ciri khas tersendiri. Seruling Samudera terbentuk dari ombak yang menerobos dari bawah celah-celah karang. Menyembur ke atas semacam air mancur diiringi suara mirip bunyi seruling.

Pantai klayar terletak di Desa Sendang Kecamatan Donorojo. Untuk rute menuju Pantai Klayar silahkan baca: Rute-Rute MenujuPantai Klayar Pacitan 

4. Gua Tabuhan

Gua Tabuhan terpilih masuk dalam jajaran 5 amazing of Pacitan karena merupakan gua terunik di dunia. Keunikannya yang tiada duanya di dunia ini terletak pada ornamennya yang ketika dipukul, bisa mengeluarkan bunyi-bunyian yang selaras dengan alat musik Jawa (gamelan). Hanya dengan tambahan kendang, maka ornamen Gua Tabuhan bisa disulap menjadi pagelaran musik tradisional. Apalagi jika ditambah lantunan nyanyian pesinden, menjadikan harmonisasi yang sangat mempesona. 

Gua Tabuhan, gua terunik se-dunia
Lokasi Gua Tabuhan masuk wilayah Dusun Tabuhan, Desa Wereng, Kecamatan Punung, sekitar 35 Km dari pusat kota Pacitan. Gua ini termasuk salah satu situs peninggalan prasejarah dan disinyalir pernah didiami manusia purba. Hasil penelitian membuktikan bahwa gua ini telah dihuni manusia purba sejak sekitar 50 ribu tahun yang lalu.


5. Gua Luweng Ombo

Gua Luweng Ombo masuk jajaran 5 Amazing of Pacitankarena merupakan gua vertikal terdalam se-pulau Jawa.  Titik terdalamnya sekitar 120 meter dan diameter lubang atas-nya sekitar 50 meter. Semakin ke bawah diameternya semakin melebar lagi mencapai di sekitar 170 meter. 

Gua Luweng Ombo, gua vertikal terdalam se-Jawa
Terbentuknya Luweng Ombo jika ditinjau dari Speleologi(ilmu yang mempelajari tentang gua), terjadi karena Collapse Sink, yaitu runtuhnya atap gua karena erosi pada dinding batu kapur akibat proses kimiawi. Teori ini bisa dibuktikan dengan adanya material runtuhan yang masih banyak dijumpai di dasar Luweng Ombo yang membentuk sebuah bukit kecil. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Luweng Ombo awalnya bukanlah gua vertikal, melainkan sebuah gua horisontal atau sungai bawah tanah yang mengalami Collapse Sink. Hal ini diperkuat dengan adanya lorong-lorong horizontal yang salah satunya sudah dieksplorasi sepanjang lebih dari satu kilometer. Tetapi karena masuk guanya harus turun puluhan bahkan mencapai 120 meter di titik terdalam, Gua Luweng Ombo lebih dikenal sebagai gua vertikal.

Luweng Ombo sendiri masuk wilayah Desa Kalak, Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan. Untuk menuju luweng ombo akses paling mudah adalah dari ruas jalan Pacitan- Yogya. Jika dari arah Pacitan, sesampainya di pertigaan Bleruk (persimpangan jalan Pacitan-Solo dengan Pacitan –Yogya) belok kiri mengikuti jalur ke Yogya. Nanti ada pertigaan dengan penunjuk arah ke Kalak. Ikuti sesuai penunjuk arah tersebut  sampai ketemu gapura Desa kalak. Nah dari gapura ini sekitar 200 meter sampailah di lokasi Gua Luweng Ombo.



Nah, itulah 5 destinasi wisata alam di Pacitan yang sangat menakjubkan yang dirangkum dalam 5 Amazing of Pacitan. Dari kelimanya ada yang sudah dibuka menjadi obyek wisata yaitu Gua Gong, Gua Tabuhan, dan Pantai Klayar. Sedangkan Gua Luweng Ombo dan Gua Luweng Jaran merupakan obyek wisata minat khusus yang hanya bisa diakses dengan ketrampilan dan peralatan khusus. Lebih menakjubkan lagi dari 5 Amazing of Pacitan ini, kelimanya juga tercatat sebagai situs-situs Geopark Gunung Sewu yang merupakan situs alam warisan dunia.

Ayo berwisata di Pacitan saja, dan jangan lupa buanglah sampah pada tempatnya. (@rif)

Senin, 18 Mei 2015

Gunung Lanang, Sensasi Menikmati Panorama Kota Pacitan dari Ketinggian

Gunung Lanang, Sensasi Menikmati Panorama Kota Pacitan dari Ketinggian


Pacitan terkenal karena wisata alamnya terutama gua dan pantai.  Tetapi ada hal lain yang bisa dilakukan untuk menikmati keindahan alam Pacitan, yaitu mendaki gunung. Gunung di Pacitan bukanlah masuk menjadi target pendakian nasional karena hanya berupa gunung-gunung kecil dan tidak begitu tinggi. Tetapi walaupun begitu ada beberapa diantaranya yang menawarkan sensasi tersendiri karena panoramanya yang sangat indah. Salah satunya adalah Gunung Lanang, gunung yang menawarkan view panorama Kota Pacitan yang berlatar Pantai Laut Selatan.

Kawasan Puncak Gunung Lanang. Nampak di belakang adalah puncak tertinggi, belakangnya lagi adalah Gunung Batok yang biasa dipakai memasang tower repeater.
Gunung Lanang terletak di Desa Punjung Kecamatan Kebonagung Pacitan dan bisa diakses baik dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4. Gunung Lanang hanya sekitar 17 Km dari pusat Kota Pacitan atau hanya menempuh perjalanan sekitar 30 menit. Dari Kota Pacitan kita menuju jalur Pantulor (Pacitan-Tulakan-Lorok). Awalnya jalan beraspal yang berliku dan menanjak. Sekitar 10 Km akan sampai di puncak tanjakan (stasiun relay TVRI di Wonogondo). Jalan kemudian lurus sebentar, menurun sedikit kemudian menanjak lagi. Akhir tanjakan jalan lurus sedikit, dan menjelang kelokan yang menurun perhatikan kanan jalan ada pertigaan. Nah kita harus belok kanan meninggalkan aspal mulus beralih ke jalan yang lebih sempit dengan aspal yang mulai rusak.
Salah satu spot di Gunung Lanang untuk menyaksikan pemandangan Kota Pacitan
Sekitar 200 meter dari pertigaan tadi, kita akan ketemu pertigaan lagi, ambil yang ke kanan arah Desa Punjung (ada penunjuk arahnya). Ikuti terus jalan utama sampai bertemu Balai Desa Punjung. Di depan Balai Desa belok kiri masuk jalan rabat. Ikuti jalan rabat tersebut, jika ada percabangan, ambil jalan yang menanjak. Jalan rabat kemudian berganti menjadi jalan makadam yang menanjak. Hati-hati jalan bebatuan yang kadang licin apalagi jika musim penghujan. Di akhir tanjakan sampailah kita di kawasan Gunung Lanang. Di sebelah kiri jalan adalah Gunung Batok (gunung dengan tower repeater di puncaknya), sedangkan Gunung Lanang di sebelah kanan jalan.  Untuk menuju puncak Gunung Lanang ambil jalan setapak yang ke kanan. Hanya sekitar 50 meter sampai di kaki Gunung Lanang. Motor bisa diparkir di area ini, kalau bawa mobil hanya bisa diparkir di tepi jalan. 
Kawasan punggungan Gunung Lanang dilihat dari sisi utara.
Untuk menuju kawasan puncak Gunung Lanang kita harus memutar menyisir sisi timur gunung. Ambil saja jalan setapak yang kiri. Awalnya jalur menanjak, kemudian menurun sedikit melewati tepi perkebunan warga baru memutar kekanan menanjak bukit sampai di punggungan gunung. Puncak tertinggi Gunung Lanang berupa batu yang menjulang tinggi. Untuk sampai puncak tertinggi sangat disarankan untuk menggunakan peralatan panjat karena satu-satunya cara adalah dengan memanjat tebing bebatuan yang curam. Tetapi jangan khawatir, karena kita tidak harus ke puncaknya. Zona terbaik Gunung Lanang justru di punggungan gunung sisi paling selatan.

Puncak tertinggi Gunung Lanang berupa batu yang menjulang tinggi. Untuk sampai ke atasnya butuh peralatan panjat tebing dan keahlian khusus.
Zona punggungan gunung ini tidak begitu lebar, tetapi memanjang ke selatan. Ada beberapa lokasi yang sebenarnya bisa dipakai untuk mendirikan tenda. Hanya saja karena lokasi punggungan gunung ini sangat terbuka dan minim pelindung, sehingga anginnya sangat kencang. Jika bermalam di Gunung Lanang lebih baik menggunakan bivak yang bisa dibuat berlindung disamping bebatuan yang ada di kawasan tersebut. Tetapi jika terpaksa memakai tenda, pastikan memakai tenda yang kuat. Tenda dome model kubah yang rendah lebih cocok karena lebih minimal dalam menangkap aliran angin. Pastikan juga untuk menguatkan tenda dengan pasak dan tali serta perhitungkan pula arah angin.  
Salah satu lokasi yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Pastikan menggunakan tenda yang kuat, karena kawasan ini sering bertiup angin kencang.
Dari kawasan punggungan Gunung Lanang ini,saat cuaca cerah, jika kita arahkan pandangan mata kita ke sisi barat akan tampak Kota Pacitan yang dikelilingi bebukitan dan juga teluk Pacitan. Sisi selatan nampak kawasan kota kecamatan Kebonagung. Sisi timur akan nampak jajaran Gunung Limo, Watu Lanang, Gunung Gembuk, dan dikejauhan nampak juga Gunung Sepang. Sebelah utara ada Gunung Batok dan Gunung Jepen. Saat malampun, view dari Gunung Lanang ini juga tak kalah indahnya. Kota Pacitan yang bertabur gemerlap lampu-lampu menyajikan sensasi panorama alam Pacitan yang tidak mudah untuk dilupakan. 

View Kota Pacitan darri Gunung Lanang.
Jika berencana untuk berkemah di kawasan Gunung Lanangjangan lupa untuk izin dulu dengan Pemerintah Desa setempat. Bisa langsung ke Kepala Desa, ataupun melalui Karang Taruna Setempat. Karena di atas tidak ada sumber air, pastikan membawa bekal air yang cukup. Hati-hati terutama di sisi barat punggungan, karena ada jurang curam setinggi lebih dari 200 meter. Jika berminat ke puncak tertinggi, gunakan peralatan panjat tebing. Dan yang tak kalah penting, jangan buang sampah sembarangan. Bawa kembali sampah anda supaya kawasan ini tetap bersih.

Nah tunggu apalagi, liburan ya berwisata di Pacitan saja. (@rif)