Selasa, 31 Januari 2017

Monumen Cinta Di Pacitan

Monumen Cinta dari Pacitan

Mungkin sudah ratusan bahkan tak terhitung kalinya saya dan mungkin juga warga Pacitan yang lain melewati kompleks pemakaman Kucur di samping STM Bina Karya Pacitan. Namun sebagian besar orang seperti halnya saya mungkin telah melewatkan satu monumen penting yang mengandung banyak rahasia yang belum terungkap. Ada satu makam yang cukup menonjol diantara makam-makam yang lain. Makam ini, atau lebih tepatnya disebut Mausoleum, berdiri diatas pondasi batu bata dan diatasnya berdiri bangunan (cungkup, dalam beberapa penelitian disebutnya kuil/temple) megah dengan arsitektur bergaya Eropa. Cungkup tersebut ditopang oleh enam pilar yang cukup besar. Pada gerbang menuju cungkup tersebut kita sudah disambut tulisan “MEMENTO MORI” yang artinya “Ingatlah Akan Kematianmu” atau Ingatlah bahwa suatu saat kita akan mati. Selepas dari gerbang, ada tangga melengkung yang bisa digunakan untuk naik menuju cungkup baik dari sisi sebelah kiri maupun sebelah kanan. Di bawah tangga tersebut terdapat ceruk kecil semacam ruangan bawah tanah dan bisa ditemukan tulisan berbahasa latin:
AD PERPETUAM REI MEMORIAM
T*.B.F.F.Q.8
Artinya kurang lebih Sebuah Kenang-kenangan Abadi. Sedangkan tulisan enam huruf di bawahnya diperkirakan adalah inisial atau kode tertentu yang belum diketahui maksudnya sampai dengan saat ini. Tanda asterik (*) menandakan hurufnya tidak dapat dibaca karena rusak. Spekulasi yang berkembang adalah tulisan tersebut kode inisial orang yang membangun makam ini. Versi penelitian Remmelink menulisnya sedikit berbeda: “G.B.F.F.Q.S.” .


Photo:DocHumas Pemkab Pacitan, Pebruari 2013
Pada bagian depan dari atap cungkup terdapat tulisan R.I.P (tentu saja maksudnya Rest In Peace atau aslinya dalam bahasa latin Requiescat In Pace, Beristirahat Dengan Tenang) sedangkan atap belakang yang menghadap ke utara tertulis ” VERLATEN MAAR NIET VERGETEN ” (yang artinya adalah Yang Ditinggalkan Tetapi Tidak terlupakan). Pada langit-langit cungkup terdapat bekas lukisan berwarna biru yg diperkirakan lukisan orang yang dimakamkan di situ. Menurut Loir & C. Guillot lukisan tersebut dihapus pada saat masa pendudukan Jepang. Tidak begitu jelas alasan dibalik penghapusan gambar tersebut.


Pada bagian bawah pilar (di Jawa disebut Umpak) terdapat ornamen khas Yunani, Lyra. Makam tersebut ditutup dengan batu nisan panjang terbuat dari batu pualam dalam ukuran yang cukup besar. Diatas batu panjang tersebut inilah awal mula makam ini menjadi bahan diskusi yang cukup serius justru dari kalangan ilmuwan di luar negeri. Paling tidak ada dua penelitian mengenai makam ini. Yang pertama dilakukan oleh Loir & Claude Guillot tahun (?) dan disambung oleh penelitian yang dilakukan oleh Willem G.J. REMMELINK pada tahun (?). Tulisan pada batu nisan (epitaph) tersebut sempat menjadi misteri yang tidak dapat diselesaikan oleh Loir & Guillot serta sempat membuat Remmelink pusing dan butuh waktu lama untuk dapat memecahkan sandinya. Tulisan pada nisan tersebut tidak dapat dibaca oleh awam karena menggunakan metode sandi Vigenere Klasik yang diperkirakan digunakan pertama kali oleh Julius Caesar dan cukup populer pada awal abad ke 19. Sekilas tulisan di atas nisan ini lebih menyerupai tulisan berantakan tanpa makna atau huruf-huruf yang bertebaran saja.

Adalah Willem G.J. Remmelink yang kemudian membuat penelitian yang memakan waktu cukup lama untuk dapat memecahkan sandi rahasia yang digunakan dalam tulisan di makam tersebut. Remmelink sangat terbantu oleh Jan Willem Stumpel yang berhasil membuat program komputer yang dapat memecahkan sandi Vigenere. Kemudian untuk pertama kalinya pada 20 Oktober 1990 sandi rahasia dalam nisan tersebut dapat dipecahkan. Berikut ini salinannya dalam bahasa Inggris dengan terjemahan bebas (Maksudnya terjemahan bebas adalah, kalau salah menterjemahkannya ya minta maaf  )

“To my deeply beloved wife Djamijah.
Born in eighteen hundred seventy three passed away on December twelve nineteen hundred one.
O my Djamijah my rose of Sharon how can I express thee my love and respect? The whole world is thereto too small for me. Shall I ever see thee again? If there is a life hereafter thou must now be in Paradise. Thou were so good and were so much thrown with dirt. Therefore, I shall take the difficult road over Golgotha and find thee back. Till we meet again! “
Terjemahan bebas:
“ Untuk istri yang sangat kucintai Djamijah.
Terlahir 1873 meninggal 12 Desember 1901.
O Djamijahku, bunga mawarku (rose of Sharon). Bagaimana saya dapat mengungkapkan rasa cinta dan hormatku kepadamu? Seluruh dunia ini menjadi sempit bagiku. Apakah aku akan bertemu denganmu lagi? Seandainya ada kehidupan di alam baka, tentu kamu sekarang ini ada di surga. Kamu sungguh sangat baik dan begitu saja terlempari kotoran . Karena itu, saya akan menempuh jalan sulit melewati Golgotha dan menemuimu kembali.
Sampai kita ketemu lagi! “
Catatan terjemahan: Rose of Sharon itu ungkapan untuk bunga yang tak ternilai harganya. Ungkapan ini juga sering digunakan dalam lirik dan sajak. Dalam penggunaan modern, Rose of Sharon merujuk pada bunga dari jenis Hypericum calycinum (biasa tumbuh di Eropa dan Asia Selatan) dan Hibiscus syriacus (biasa tumbuh di Asia). Si penulis di makam menggunakan istilah Rose of Sharon ini untuk menunjukkan betapa indah dan berharganya Djamijah baginya.
Dari prasasti di Nisan tersebut terungkap bahwa yang dikuburkan di makam tersebut adalah seorang perempuan bernama Djamijah yang meninggal pada usia 28 tahun. Tidak banyak informasi lain yang tergali dari tulisan di nisan tersebut, malah segudang pertanyaan yang kemudian muncul: Siapa suami Djamijah yang terlihat begitu mencintainya itu? Kenapa dalam nisan tersebut menyebutkan Djamijah “thrown with dirt”, apakah ada peristiwa tragis yang menimpa Djamijah sebelumnya? Kenapa tulisan diatas nisan tersebut perlu disandikan / dirahasiakan? Kalau suaminya Djamijah benar-benar mencintai Djamijah kenapa tidak ada kuburannya di dekat makam Djamijah seperti kebiasaan orang-orang yang saling mencintai? Apakah Djamijah ini istri kedua / Nyai seperti kebiasaan kebanyakan pejabat kolonial Belanda saat itu? Apakah huruf-huruf yg ditatahkan pada bagian lain dari makam ini yang berbunyi “T*.B.F.F.Q.8” merupakan kode inisial suami atau orang yang membangun makam ini? (Remmelink dalam laporan penelitiannya menuliskan “G.B.F.F.Q.S.” Dan dengan menggunakan metode pemecahan sandi yang sama mungkin menjadi H.J.M.I.R.A. ).
Penelusuran Hendri Chambert – Loir yang saat dia meneliti belum bisa memecahkan kode sandi tulisan di makam hanya memberikan sedikit petunjuk. Menurut cerita penduduk setempat, yang dimakamkan di makam tersebut adalah seorang perempuan Jawa yang cukup terkenal, istri dari seorang Pengawas Perkebunan jaman kolonial Belanda. Dari petunjuk penduduk sekitar, Chambert-Loir menemui ibu Sukiah, keponakan dari pemilik makam misterius itu yang tinggal di desa Slahung, kearah Ponorogo. Bapaknya Sukiah adalah adik kandung dari Djamijah yang diserahi tugas merawat makam tersebut. Informasi dari ibu Sukiah, suami Djamijah bernama Tuan Gip. diperkirakan Djamijah berumur 20-30 tahun lebih muda dari suaminya. Djamijah diperkirakan meninggal pada umur 35 tahun. Bapaknya Sukiyah adalah pegawai dari Tuan Gip pada masa itu. Setelah Djamijah meninggal pada tahun 1901, tuan Gip kemudian pindah ke Maospati dan menghabiskan masa pensiunnya di sana serta meninggal di sana dua tahun kemudian (1903). Tuan Gip sendiri menurut cerita adalah Pengawas / Tuan Tanah Perkebunan Kelapa. Penduduk sekitar juga sempat mengatakan bahwa sekali waktu Tuan Gip ini berjalan kaki dari Maospati ke Pacitan untuk mengunjungi makam Djamijah. Akan tetapi keberadaan makam Tuan Gip sendiri tidak ada yang mengetahuinya. Ada yang memperkirakan diantara Maospati dan Pacitan. Profesi Tuan Gip, masih menurut cerita penduduk setempat, adalah pengawas/tuan tanah perkebunan kelapa. Ia mempunyai beberapa hektar tanah.
Lantas siapakah sebenarnya Tuan Gip sang suami Djamijah?
Willem G.J. REMMELINK yang memecahkan kode sandi rahasia tulisan di batu nisan sempat melakukan penelusuran ke berbagai pihak. Menurut informasi dari penduduk Pacitan yang keturunan china, yang membangun makam tersebut adalah Mr. Taalman Kip. Namun karena pengucapan logat bahasa Jawa kemudian menjadi Tuan Gip. Remmelink juga melakukan penelusuran dalam Almanak Gotha Keluarga Bangsawan Belanda (Almanac de Gotha of Dutch patrician families). Menurut catatan dokumen ini, ada salah seorang keluarga Taalman Kip ini yang pergi ke Nederlands Indie (Indonesia) dan menjadi pegawai pemerintah. Dia adalah Marcus Jacobus van Erp Taalman-Kip yang lahir di Woerden pada 16 Maret 1830. Di Jawa dia menikah di Madiun dengan perempuan jawa bernama Noertya, dimana dia memiliki dua orang anak laki-laki dan satu perempuan.



 Foto: Willem Frederick van Erp Taalman Kip,salah satu keturunan Marcus Jacobus van Erp Taalman Kip
Akan tetapi informasi inipun masih belum sepenuhnya terverifikasi, hanya berdasarkan penuturan dari cerita informan serta penelusuran dokumen yang bisa saja salah. Seandainya benar yang membangun makam tersebut adalah Marcus Jacobus van Erp Taalman Kip, kenapa inisial nama yang dituliskan di makam tersebut tidak sama. Pada makam tersebut tertuliskan “G.B.F.F.Q.S.” yang bisa diterjemahkan menjadi “H.J.M.I.R.A” kenapa bukan M.J.V.E.T.K ? Apakah itu bukan nama inisial suami Djamijah?
Masih banyak misteri yang belum tersingkap dari makam ini. Cinta memang penuh dengan misteri. Pun ketika itu dalam bentuk monumen sekalipun.

SHARE THIS

Author:

0 komentar: